Kata Pengantar

Buku Tarombo PARNA ini secara khusus kami tulis dan susun untuk menjelaskan secara sistematis dan terstruktur silsilah pomparan (keturunan) Raja Naiambaton, sehingga dapat menjadi acuan yang sahih bagi seluruh keturunannya dalam menjaga identitas, melestarikan nilai-nilai budaya, dan tetap memperkuat ikatan kekeluargaan saat ini dan di masa-masa mendatang.

Tujuan utama pembuatan buku tarombo ini adalah untuk mendokumentasikan dan menjelaskan urutan garis keturunan setiap marga secara sistematis dari generasi ke generasi, terutama melalui jalur keturunan laki-laki sebagai penerus marga. Meski hanya anak laki-laki sebagai penerus marga namun posisi dan peran anak perempuan tetap memiliki arti penting, terkait kepada marga mana anak perempuan menikah. Sebagai catatan, bahwa laki-laki dan perempuan yang sama marganya pantang menikah di kalangan Batak.

Informasi ini memperjelas struktur kekerabatan dalam masyarakat Batak, yang berakar pada filosofi Dalihan Na Tolu yang berazaskan manat mardongan tubu (saling menghargai antar sesama semarga), elek marboru (menyayangi pihak boru atau perempuan), dan somba marhula-hula (menghormati pihak hula-hula atau keluarga dari pihak istri atau mertua suami). Filosofi ini menjadi landasan utama dalam menjaga keharmonisan hubungan sosial, etika, dan nilai-nilai kebaikan dalam kekeluargaan masyarakat Batak.

Sejalan dengan tujuan penerbitan Tarombo Parna, inti isi buku ini berfokus pada sejarah keturunan Raja Batak sebagai generasi pertama, dilanjutkan dengan Isumbaon sebagai generasi kedua, dan Sorimangaraja sebagai generasi ketiga, serta generasi keempat adalah Raja Naiambaton yang dikenal dengan gelar Tuan Sorba Di Julu dan atau Oppu Raja Nabolon.

Dalam buku tarombo ini, disajikan uraian mengenai sejarah Raja Batak yang ditinjau dari sudut pandang mitologis, khususnya berkaitan dengan asul-usul serta kisah tentang Raja Batak. Isi buku ini menjelaskan berbagai pendapat mengenai asal mula si Raja Batak dan bagaimana awal terbentuknya marga-marga yang merupakan keturunan si Raja Batak yang dipercaya sebagai orang pertama atau generasi pertama orang Batak.

Isi buku ini juga menguraikan tiga nama atau gelar yang disandang oleh Raja Naiambaton yang masih digunakan hingga saat ini. Uraian tersebut mencakup penjelasan mengenai keturunan langsung Raja Naiambaton yaitu: Bolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munte Tua, Nahampun Tua, serta seorang putri yang dikenal dengan nama Pinta Haomasan.

Untuk memperkaya pemahaman mengenai sosok Raja Naiambaton, buku ini menguraikan tentang torsa-torsa atau turi-turian yakni kisah-kisah lisan yang menceritakan perjalanan hidup, nilai-nilai, dan pengalaman Raja Naiambaton beserta semua putra dan putrinya. Isi buku diperkaya dengan penjelasan filosofi kehidupan masyarakat Batak yang diwariskan secara turun-temurun, serta tona atau pesan-pesan luhur dari Raja Naiambaton kepada seluruh keturunannya.

Lebih lanjut, dipaparkan pula berbagai hasil karya nyata yang ditinggalkan oleh Raja Naiambaton dan keturunannya, yang hingga kini masih menjadi bagian dari warisan budaya Batak. Seluruh aspek ini menegaskan kontribusi Raja Naiambaton dalam membentuk identitas dan memperkaya khazanah budaya, khususnya bagi Pomparan atau keturunannya.

Dalam penyusunan Website Tarombo Parna, Tim Penulis melakukan proses penggalian dan pengumpulan data yang relevan serta valid dari berbagai sumber terpercaya meliputi referensi tertulis seperti buku dan majalah, narasi lisan seperti torsa-torsa dan turi-turian, serta hasil diskusi, seminar, dan wawancara dengan para tokoh keturunan Raja Naiambaton. Data yang dikumpulkan oleh Tim Penulis juga diperoleh dari artefak peninggalan para leluhur serta hasil pengamatan dan tinjauan terhadap kegiatan adat yang dilaksanakan secara turun temurun hingga saat ini.

Tim Penulis berupaya menyusun website ini secara sistematis dengan menerapkan metode analisis deskriptif. Seluruh uraian disajikan dalam Bahasa Indonesia yang baku dan tetap sederhana agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca, khususnya generasi penerus dari keturunan Raja Naiambaton.

Dengan terbitnya buku Tarombo Parna ini, Tim Penulis mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunian-Nya. Berkat pertolongan-Nya, Tim Penulis diberi kekuatan, ketekunan, dan kesabaran dalam menyelesaikan proses penyusunan buku ini, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan.

Tim Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan buku ini masih terdapat berbagai kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu dengan penuh hormat, Tim Penulis mengharapkan masukan, kritik, dan saran yang membangun dari sidang pembaca. Segala bentuk tanggapan kami terima dengan tangan terbuka sebagai bahan evaluasi dan melengkapi isi edisi cetak ulang atau penerbitan buku Tarombo Parna di masa mendatang.

Tim Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pomparan Raja Naiambaton, para tokoh masyarakat, dan seluruh narasumber yang telah memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang namanya tidak dapat disebutkan satu persatu.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada para Ketua Umum Marga Pomparan Raja Naiambaton. Dukungan moral, materiil, serta persetujuan dari berbagai pihak sangat berarti dalam memperkuat legitimasi dan pengakuan terhadap Tarombo Parna ini.

    Jakarta, Juni 2025

     Tim Penulis

Buku tarombo atau silsilah dalam masyarakat Batak berfungsi sebagai landasan dalam memahami penjelasan (informasi) tentang garis keturunan dan struktur geneologis setiap marga.

Penjelasan dalam tarombo tidak hanya merekam asal-usul nenek moyang orang Batak, tetapi juga melacak dan mengungkap cerita perjalanan keturunan mereka dari generasi ke generasi yang sarat nilai-nilai untuk proyeksi terhadap generasi masa depan.